Translate

Rabu, 15 Januari 2014

perkembangan religi pada anak



PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL ANAK
A.    Pengertian Perkembangan
Menurut Hurlock (1980) mengemukakan bahwa perkembangan berarti buka sekedar penembahan ukuran tinggi dan berat badan seseorang atau kemampuan seseorang, melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Sedangkan menurut Baltes (1987) perkembangan meliputi gains (growth) dan losses (decline), jadi sepanjang hidup individu selain ada pertumbuhan juga ada penurunan.
Berdasarkan paparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan merupakan pertumbuhan segala sesuatu yang ada didalam diri kita baik afektif, kognitif maupun psikomotorik yang dipengaruhi lingkungan, pengalaman dan kematangan yang juga disertai dengan kemunduran/penuaan. Adapun tahapan perkembangan anak menurut hurlock (1980) yaitu:
f.       Masa bayi baru lahir (dari kelahiran sampai akhir minggu ke dua).
g.      Masa bayi (mulai akhir minggu kedua – 2 tahun).
h.      Awal masa kanak-kanak (usia 2-6 tahun).
i.        Akhir masa anak-anak (6-12 tahun). 
Perkembangan mencangkup proses-proses biologis (biological process), kognitif (cognitive process), sosioemosional (sosioemotional process), perkembangan moral dan perkambangan minat terhadap agama.

B.     Perkembangan Minat Anak-Anak Awal Terhadap Agama
Pada masa ini, menurut Hurlock (1980), keingintahuan anak tentang masalah-masalah agama menjadi besar dan anak senang mengajukan banyak pertanyaan (terutama pada akhir masa ini). Anak menerima jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tanpa ragu-ragu. Konsep anak tentang agama adalah realistis, dalam arti nak menafsidrkan apa yang didengar dan dilihatnya sesuai aapa yang sudah diketahuinya. Misalnya, tuhan berambut panjang dan berjenggot, malaikat bersayap putih, surga adalah tempat dimana segala keinginan dipenuhi.
Minat anak pada agama bersifat egosentris, contoh: menurut anak, santa claus akan membawakan semua yang ia inginkan. Juga ada pada tahapan dongeng, artinya anak menerima semua keyakinan dengan unsur yang tidak nyata. Cerita-cerita alkitab dan upacara-upacara agama sangat menarik perhatianny, sehingga anak sangan senang dilibatkan pada upacara-upacara agama.

C.    Perkembangan Minat Anak-Anak Akhir Terhadap Agama
Pada masa anak-anak akhir minta terhadap agamaditampkn melalui:
1.      Banyak bercakap dengan temannya tentang agama, tettapi lebih dipusatkan tentang tata ibadat daripada tentang doktrin. Juga tentang hal-hal seperti surga, neraka, malikat atau iblis.
2.      Minat mengikuti upacara keagamaan masih kuat.
3.      Karena kemampuan menalar mereka makin meningkat, mulai muncul kebingungan dan keraguan yang cenderung melemahkan kepercayaan (terutama pada akhir masa ini)
4.      Minjat pada doa biasanya berkurang karena merasa sebagian besar doanya tidak terjawab.
Tingkat regiliusitas individu sangat dipengaruhi oleh oerkembangan minat agama pada saat anak-anak, sehingga orang tua perlu memerhatikan kegeitan keagamaanbagi anaknya.untuk skank-kanak akhir, sudah bisa dilatih untuk membacaaj dan agar anak tertarik bisa diberikan kitab khusu untuk anak-anak. Kegiatan keagamaan yang sesuai dengan usianyajuga perlu diperkenalkan dan anak diltih untuk ikut aktif menghadiri. Berbagai penelitian telah menunjukan bahwa bahwa ajaran agama yang dihayati merupakan suaatu buffer atau penyangga untuk perkembangan yang positiv fungsi psikologis individu. Memang belum banyak penelitian yang dilakukan pada anak berkaitan dengan sejauh mana peran agama dalam kehidupan anak. Namun berbagai pennelitian ( Bridge & moore ) 2002 dengan subjek remaja telah menunjukan hasil bahwa agama berefek positiv, yaitu menghindarkan remaja dari deliquency (kenakalan remaja), poenggunaan Narkoba, perilaku seksual, dan mereka cenderungberprilaku positive sebagai prilaku prososial, memahami nilai-nilai moral, serta memiliki kepribadian dan kesehatan mental yang baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Volling, mahoney dan Raur 2009 menunjukan bahwa kehidupan keagamaan anak dipengaruhi oleh religiusitas orangtuanya. Orang tua yang religius akan mendorong anak-anaknya mengikuti keghiatan-kegiatan keagamaan sehingga mempengaruhi munculnya prilaku-prilaku positive seperti self control yang lebih baik, perkembangan suara hati (hati nurani) serta problem-problem prilaku internal dan eksternal yang sedikit.

D.    Perkembangan Minat Remaja Terhadap Agama
Sejalan dengan perkembangan kesadaran moralitas, perkembangan keagamaan , yang erta hubungannya dengan perkembangan intelektual disamping emosionakl dan volisional, mengalami perkembangan. Para ahli umumnya ( Zakiah, Starbuch, William) sependapat bahwa pada garis besarnya perkembangan keagamaan itu dapat dibagi menjadi dalam tiga tahapanyang secara kualitatif menunjukan karakteristik yang berbeda. Adapun penghayatan keagamaan remaja adalah sebagai berikut:
1.      Masa remaja awal, yang ditandai oleh hal-hal berikut:
a.       Sikap negatif ( meskipun tidak selalu terang-terangan) disebabkan alam pikiranya yang kritis melihat kenyataan orang-orang beragama secara pura-pura yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu selaras dengan perbuataanya.
b.      Pandangan dalam hal keutuhannya menjadi kacau karena ia banyak membaca atau mendengar barbagi konsep dan aliran pemikiran atau paham banyak yang tidak cocok atau bertentangan satu sama lain.
c.       Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptis sehingga banyak yang enggan melakukan berbagai kegiatan ritual yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.
2.      Masa remaja akhir yang ditandai oleh hal-hal berikut ini:
a.       Sikap kembali, pada umumnya kearah positif dengan tercapainya kedewasaan intelektual bahkan agama dapat menjadi pegangan hidupnya menjelang kedewasaan.
b.      Pandangan dalam hal ketuhanan dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya .
c.       Penghayatan rohaniahnya kembali tenang melalui proses identifikasi dan merindu puja, ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran dan manusia penganutnya, yang baik dan yang tiak. Ia juga memahami bahwa terdapat berbagai aliran pemikiran atau paham dan jenis keagamaan yang penuh toleransi dan seygyanya diterima sebagai kenyataan yang hidup didunia ini.

E.     Issue dan Solusi Terhadap Aksi Anarkis FPI Terhadap Pengaruhnya Kepada Anak.
              Saat ini sangat ramai sekali diperbincangkan masalah aksi-aksi anarkis FPI yang berlabelkan agama islam dengan tameng nilai-nilai islam nya melakukan aksi-aksi anarkis terhadap golongan-golongan masyarakat yang dianggap sesat atau menyimpang dari agama. Aksi-aksi anarkis ini merupakan aksi-aksi yang sangat tidak etis bila dilihat oleh anak-anak, seperti memukul, menendang, menembak bahkan menganiaya sesama manusia. Tentunya ini dapat mempengaruhi perkembangan agama seorang anak.
              Sangatlah mungkin bila seorang anak menjadi anarkis dan sangat berlaku tidak wajar ketika pada saat membela agamanya. Karena apa yang dia lihat adalah hal-hal yang seperti itu.  Padahal sudah ditekankan di negara ini terhadap toleransi beragama, tentunya ada cara-cara atau hal-hal yang lebih baik dalam menghadapi hal-hal yang di anggap menyimpang dari agama, tentunya bukan dengan cara kekerasan.
              Tentunya hal ini menjadi peran orang tua terhadap perkembangan agama untuk anaknya, sedini mungkin seorang anak sudah diajarkan tentang toleransi beragama dan bagaimana menciptakan kerukanan antar umat beragama.



Daftar pustaka
Agustin, Nurihsan. (2011). DINAMIKA PERKEMBANGAN ANAK DAN REMAJA (Tinjauan Psikologis, Pendidikan, dan bimbingannya). Bandung. PT Reflika Aditama.
Soetjiningsih. (2012). PERKEMBANGAN ANAK (Sejak Pembuahan Sampai dengan Kanak-kanak Akhir). Jakarta. PRENADA MEDIA GROUP.

Perkembangan Kognitif Pada Anak



PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK
A.    Pengertian Perkembangan
Menurut Hurlock (1980) mengemukakan bahwa perkembangan berarti buka sekedar penembahan ukuran tinggi dan berat badan seseorang atau kemampuan seseorang, melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Sedangkan menurut Baltes (1987) perkembangan meliputi gains (growth) dan losses (decline), jadi sepanjang hidup individu selain ada pertumbuhan juga ada penurunan.
Berdasarkan paparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan merupakan pertumbuhan segala sesuatu yang ada didalam diri kita baik afektif, kognitif maupun psikomotorik yang dipengaruhi lingkungan, pengalaman dan kematangan yang juga disertai dengan kemunduran/penuaan. Adapun tahapan perkembangan anak menurut hurlock (1980) yaitu:
1.      Masa bayi baru lahir (dari kelahiran sampai akhir minggu ke dua).
2.      Masa bayi (mulai akhir minggu kedua – 2 tahun).
3.      Awal masa kanak-kanak (usia 2-6 tahun).
4.      Akhir masa anak-anak (6-12 tahun). 
Perkembangan mencangkup proses-proses biologis (biological process), kognitif (cognitive process), dan sosioemosional (sosioemotional process).

B.     Perkembangan Kognitif Anak
Proses kognitif meliputi perubahan perubahan pada pada pemikiran, intelegensi dan bahasa. Berdasarkan tahapan perkembangan individu maka proses perkembangan kognitif pada anak dapat dilihat pada tahapan-tahapan sebagai berikut:

1.      Tahap Sensoris motorik (0-2 tahun).
Piaget mengatakan bahwa pada periode ini ditandai oleh penggunaan senso motorik (dalam pengamatan dan pengindraan) yang intensif terhadap dunia sekitarnya. Prestasi intelektual yang dicapai dalam periode ini ialah perkembangan bahasa, hubungan tentang objek, kontrol skema, kerangka berpikir, pembentukan pengertian, pengenalan hubungan sebab-akibat. Prilaku kognitif yang nampak antara lain:
a.       Menyadari dirinya berbeda dari benda-benda sekitarnya
b.      Sensitif terhadap rangsangan suara dan bahaya.
c.       Mencoba bertahan pada yang menarik.
d.      Mendeskripsikan objek/ benda dengan memanipulasinya.
e.       Mulai memahami ketepatan makna suatu objek meskipun lokasi dan posisinya berubah.
Namun teori piaget diatas dikritik oleh Santrock (1995) dalam penelitiannya mengatakan bahwa
a.       Suatu dunia yang nyata telah dibangun jauh lebih awal pada masa bayi dibandingkan dengan yang dibayangkan piaget.
b.      Memori dan bentuk-bentuk kegiatan simbolis lainya terjadi sekurang-kurangnya pada semester kedua tahun pertama.
Santrock juga mengatakan bahwa perkembangan Persepsi, perkembangan konsep dan memori bayi sudah berkembang lebih awal yaitu sejak bayi berusia 4-6 bulan. Pengalaman seorang bayi pada saat berusia enam bulan ternyata masih dapat diingatnya hingga 2 tahun kemudian. Jadi kemampuan mengingat bayi terjadi jauh lebih awal dibandingkan pendapat-pendapat yang dulu dan daya ingatnya juga lebih baik.
2.      Tahap Pra-operasional (2-7 tahun)
Menurut Piaget periode ini terbagi kedalam dua tahapan ialah:preconceptual (2-4 tahun) dan intuitive (4-7 tahun). Periode preconceptual ditandai dengan cara berpikir yang bersifat transduktif (menarik konklusi tentang suatu yang khusus atau dasar hal ksusus; sapi disebut juga kerbau) pada tahap ini bentuk pemikiran dibagi menjadi dua macam yaitu:
a.       Ergosentris, suatu ketidak mampuan untuk membedakan antara perspektif dirinya dengan perspektif oranglain.
b.      Animisme, keyakinan bahwa objek yang tidak bergerak mempunyai kehidupan dan dapat bertindak.
Periode Intuitive, pada tahap ini anak mulai menggunakan penalaran primitive dan ingin tahujawaban atas semua pertanyaan. Anak mengatakan mengetahui sesuatu tanpa menggunakan pemikiran rasional. Pada tahap ini anak sudah mampu memahami angka-angka walaupun masih secara terbatas. Namun pada tahapan akhir  ini kemampuannya menjadi lebih baik. Adapun perilaku kognitif yang nampak pada tahap Pra-operasional antara lain:
a.       Self-centered dalam memandang dunianya
b.      Dapat mengklasifikasikan objek-objek dasar satu ciri tertentu yang memiliki ciri yang sama, mungkin pula memiliki perbedaan dalam hal lainya.
c.       Dapat melakukan koleksi benda-benda berdasarkan suatu ciri dan kriteria tertentu.
d.      Dapat menyusun benda-benda, tetapi belum dapat menarik inferensi dari dua benda yang tidak bersentuhan meskipun terdapat dalam susunan yang sama.

3.      Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun)
Pada tahapan ini, pemikiran logis menggantikan pemikiran intuitif. Konsep yang semula samar-samar dan tidak jelas kini menjadi konkret.pada tahapan ini perkembangan kognitif dapat terlihat dari:
a.       Konservasi, yaitu kemampuan anak untuk memahami bahwa suatu zat/objek/benda tetap memiliki substansi yang sama walaupun mengalami perubahan dalam penampilan
b.      Klasifikasi, yaitu kemampuan anak untuk mengelompokan/mengkasifikasi benda dan memahami hunungan antar benda tersebut.
c.       Seriation, yaitu kemampuan anak untuk mengurutkan sesuai deimensi kuantitaifnya.
d.      Transtivity, yaitu kemampuan anak memikirkan relasi gabungan secara logis.

C.    Permasalahan dalam Perkembangan Kognitif
Kemampuan kognitif anak harus dikembangkan secara optimal karena menyangkut kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari anak. Namun,dalam perkembangannya, ditemukan kesulitan kesulitan yang dihadapi anak diantaranya: anak sulit mengerti bila dijelaskan tentang sesuatu, lambat dalam mengerjakan sesuatu, atau keliru dalam menyelesaikan suatu persoaalan, sulit berkonsentrasi. Permasalahan kognitif dapat pula menyangkut intelgensi rendah yang disebut retardasi mental (lemah mental). Lemah mental dibagi menjadi tiga golongan yaitu: ringan dengan iQ 50-70, sedang dengan iQ 35-49, dan berat dengan iQ 20-34.
Permasalahan kognitif juga dapat berupa kretinisme yaitu keadaan jasmani dengan tanda-tanda bdannya cebol, kulit muka dan badan tebal berlipat-lipat, muka menggembung dan tampak bodoh. Lidahnya menjulur keluar dan dahinya penuh dengan rambut. Penyebab kretinisme ini adalah gangguan perkembangan kelenjar thyroid. Anak kretin ini biasanya mulai berbicara dan berjalan lebih lambat dari pada anak normal, umur mental nya hanya mencapai umur mental 3 sampai 4 tahun, sehingga dapt dikategorikan sebagai mental lemah.

D.    Issue dan Solusi Terhadap Anak yang Lambat dalam Kemampuan Membaca.
Membaca merupakan keterampilan khusus yang sangat penting yang harus dimiliki setiap anak. Karena dengan membaca otomatis akan mempengaruhi perkembangan kognitifnya. Kemampuan membaca yang kurang baik dapat mempengaruhi proses perkembangannya seperti dalam proses pembelajaran disekolah.
Jika dilihat dari tahapan perkembangan kognitif pada anak, kemampuan membaca seharusnya sudah dapat dikembangkan pada tahapan Pre-operasional period yaitu pada saat anak-anak berumur 2-7 tahun. Karena pada tahapan ini anak memiliki kemampuan memusatkan perhatian dan pikiranya, memiliki kemampuan menganalisis tugas, dan memiliki ingatan memori yang jauh lebih baik pada saat masih balita.
Tentunya kesulitan dalam membaca bagi anak dapat dihindari dengan cara memberikan perhatian dan pembelajaran yang tepat pada tahapan perkembangan Pra-operasional agar perkembangan kognitifnya menjadi maksimal. Piaget dan Vygotsky mengatakan bahwa Orang lain dan bahasa merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan Kognitif pada tahapan ini. Karena anak-anak dapat mengembangkan konsep-konsep sistematis, logis dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan orang lain yang ahli.
Zone of proximal Development (ZPD) merupakan konsep dari Vygotsky yang dapat digunakan untuk meningkatkan perkembangan kognitif pada anak. Konsep ini menekankan pada bimbingan orang tua atau orang dewasa yang lebih terampil, artinya dalam kasus membaca orangtua lah yang secara langsung sangat berperan penting dalam proses pembelajaranya. Vygotsky juga mengatakan bahwa dialog merupakan alat yang penting dalam konsep ZPD, komunikasi dan cara penyampaian informasi kepada anak pun harus diperhatikan dengan baik.


Daftar pustaka
Agustin, Nurihsan. (2011). DINAMIKA PERKEMBANGAN ANAK DAN REMAJA (Tinjauan Psikologis, Pendidikan, dan bimbingannya). Bandung. PT Reflika Aditama.
Soetjiningsih. (2012). PERKEMBANGAN ANAK (Sejak Pembuahan Sampai dengan Kanak-kanak Akhir). Jakarta. PRENADA MEDIA GROUP.

Perkembangan Moral Pada Anak



Perkembangan Moralitas Anak
A.    Pendahuluan
Perkembangan penalaran moral berkaitan dengan aturan dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang dalam interaksinya dengan orang lain. Perkembangan moral dapat terlaksana apabila:
1.      Anak sudah mampu bernalar atau berfikir tentang aturan-aturan yang menyangkut etika perbuatan. Fokusnya adalah pada penalaran yang digunakan oleh anak untuk membenarkan suatu keputusan moral.
2.      Perilaku anak sesuai dengan suasana dan lingkungan moral.
3.      Anak merasa bersalah apabila melanggar aturan yang telah ditetapkan dan sebaiknya ia merasa senang bila dapat melawan godaan. 
Moralitas atau moral adalah istilah yang berasal dri bahsa latin mos yang berarti cara hidup atau kebiasaan. Secara harfiah istilah moral berarti sama dengan istilah etika, tetapi dalam praktiknya istilah moral telah jauh dari istilah harfiahnya. Moral atau moralitas ini dilandasi oleh niali-nilai tertentu yang diyakini oleh orang-orang tertentu sebagai sesuatu yang baik atau buruk, sehuingga pada akhirnya dapat membedakan mana yang patut dilakukan dan perkara mana yang harus ditinggalkan. Setidaknya ada enam prinsip moral yaitu:
1.      Prinsip keindahan
2.      Prinsip persamaan
3.      Prinsip kebebasan
4.      Prinsip kebaikan
5.      Prinsip keadilan
6.      Prinsip kebenaran
Secepat individu menyadari bahwa ia merupakan bagian anggota dari kelompoknya, secepat itu pula pada umumya individu menyadari bahwa terdapat aturan-aturan prilaku yang boleh atau tidak boleh, harus atau terlarang melakukannya. Aturan-aturan yang boleh atau tidak boleh itu disebut moral. Proses penyadaran moral tersebut berangsur tumbuh melalui interaksi dengan lingkungannya di mana ia mungkin mendapat larangan, suruhan, pembenaran atau persetujuan, kecaman atau ancaman, atau merasakan akibat-akibat tertentu yang mungkin menyenangkan atau memuaskan mungkin pula mengecewakan dari perbuatan yang dilakukannya.

B.     Perkembangan Moral Pada Masa Anak-Anak Awal
       Mengacu pada teori perkembangan moral, anak-anak usia pra sekolah yang penalaran kognitif ada pada tahap pra-operasional, perkembangan moralnya juga masih terbatas. Perkembangan pada tahap ini merupakan penalaran oral yang prakonvesional. Penalaran moral pada tahap ini mendasarkan pada objjek di luar iindividu sebagai ukuran benar atau salah. Anak pada masa ini ada pada stadium orientasi patuh dan takut hukuman.
       Pada tahap ini anak menilai semua perbuatannya sebagai benar atau salah berdasarkan akibat-akibatnya dan bukan berdasarkan motivasi yang mendasarinya. Masa-masa ini merupakan masa penegakan disiplin. Menurut Hoffman (Hurlock, 1980) pertumbuhan moral anak erat hubungannya dengan kegiatan mendisiplinkan anak.
1.      Kedisiplinan anak
      Disiplin merupakan cara orangtua mengajarkan anak-anak nya perilakun moral yang diterima kelompok. Tujuannya adalah untuk memberitahukan kepada anak perilaku mana yang baik dan mana yang buruk dan mendorongnya untuk berprilaku sesuai dengan standar-standaryang ditetapkan. Melalui disiplin, anak dapat belajar berprilaku dengan cara yang diterima oleh masyarakat. Pokok utama disiplin sebenarnya dalah peraturan, yaitu pola tertentu yang ditetapkan untuk mengatur pola prilaku anak. Jadi sebaiknya orang tua membuat peraturan yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak, yang dapat dimengerti dan diterima anak, yang diterapkan oleh konsisten oleh siapapun agar upaya mendisiplinkan anak dapat berjalan dengan baik.
Ada empat unsur dalam disiplin yaitu (Hurlock, 1980):
a.       Peraturan sebagai pedoman perilaku
b.      Konsistensi dalam menerapkan peraturan dan cara yang digunakan.
c.       Hukuman bagi pelanggaran peraturan.
d.      Hadiah atau penghargaan untuk perilaku yang sesui dengan peraturan.

2.      Disiplin yang efektif
      Disiplin yang diterapkan pada anak hendaknya memang berkaitan dengan upaya pembentukan  prilaku positif yang penting dimiliki oleh anak, dan disesuaikan dengan perkembangannya. Oleh karena itu harus ditunjukan untuk mengevaluasi prilaku positif dari anak, yang ditampakan dalam lima kriteria disiplin yang efektif, yaitu:
a.       Anak merasa disiplin itu penting baginya.
b.      Dipatuhi dan dilakukan dengan semangat.
c.       Mengajarkan ketrampilan hidup dan keterampilan sosial yang bernilai untuk karakter yang baik.
d.      Membantu anak mengembangkan keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan.
     Pengenalan disiplin kepada anak oleh orangtua harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan penuh kasih sayang, demikian juga yang harus dilakukan oleh guru kepada peserta didiknya. Jones (2000). Mengmukakan beberapa teknik disiplin yang efektif yaitu:
a.       Ignoring, dilakukan dengan cara mengabaikan anak bila melakukan perbuatan yang salah.
b.      Modeling, imitasi merupakan salah satu metode efektif untuk belajar sesuatu bagi anak.
c.       Rules, artinya dibuat secara adi; dan rasionable dan berilah penjelasan kepada anak sesuai dengan kemampuan kognitifnya mengapa aturan itu dibuat.
d.      Time out, bila anak melanggar aturan, maka diberi waktu beberapa saat untuk anak memahami bahwa mereka telah berprilaku yang tidak diterima.
e.       Natural and logical consequences,  anak menerima konsekuensi apabila tidak mau melakukan aturan.
f.       Allowing child to take a risk, bila anak melanggar maka anak akan mengalami resikonya.
g.      Restricting acti tvities to specific places, perilaku tertentu dapat dilakukan disuatu tempat, tetapi tidak di tempat lain.
h.      Anticipating situation that my produce stress of children,  mempersiapakan anak menghadapi situasi tertentu agar tidak stress.
i.        Planning and Structuring activities,  aktivitas yang terencana da terstruktur dan tidak berlebihan yang sesuai dengan usia anak.
j.        Building children self-esteem, membantu anak untuk memperoleh kepercayaan diri dan memperbaiki self-conceptnya agar self-esteemnya meningkat, dengan cara memerhatikan anak saat being good dan memberi pujian.
k.      Stating expectation in advance, membuat anak mengetahui apa yang diharapkan dan harus tertulis.
l.        Giving “I” statements, berbagi perasaan dari pada menyalahkan anak.
m.    Encouraging children to set rules for themselves, memberi pemahaman bahwa baturan dibuat untuk dirinya sebagai alat kontrol perilakunya.

3.      Pelanggaran
      Anak dapat melakukan berbagai macam pelanggaran namun bentuk yang sering dilakukan adalah ketidakteraturan, menisap ibu jari, mengompol, membuat suasana ribut, ledakan amarah, berbohong, merusak, bermain curangdan menggeluyur. Namun pada masa anak awal, pelanggran yang dilakukan berkaitan juga dengan belum matangnya anak, yang berangsur-angsurakan berkurang dengan bertambah nya usia.

4.      Manfaat Disiplin
      Oleh sebab itu kedisiplinan harus dilatihkan kepada anak sejak awal agar anak mempunyai kebiasaan berprilaku yang baik, tertib yang akan sngat berguna dalam mendukung perkembangaa aspek-aspek lainya dan untuk krhidupan kelak. Melalui disiplin anak akan:
a.       merasa aman, karena ia akan tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan.
b.      Membantu anak menghindari perasaan bersalah dan rasa malu akibat perilaku yang salah.
c.       Memungkinkan anak hidup menurut standar yang disetujui kelompok sosial.
d.      Merasa disayang dan diterima akibat dari reward perlakukan baiknya.
e.       Pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yang diharap darinya.
f.       Membantu anak dalam mengembangkan hati nuraninya karena “suara dari dalam” membimbing anak membuat keputusan dan mengendalikan perilakunya.



5.      Hukuman
      Dalam upaya mendisiplinkan anak, kadang kala ada orang tua yang menerepkan pemberian hukuman dalam beberapa bentuk, namun seringkali dalam bentuk hukuman fisik.
Menurut Gershoff (Santrock, 2007), hukuman fisik berkorelasi dengan rendahnya tingkat kesadaran dan aggresivitas pada anak, rendahnya tingkat internalisasi moral, dan kesehatan mental yang lebih rendah. Beberapa pendapat menyatakan perlunya menghindari hukuman dengan alasan sebagai berikut:
a.       Orangtua yang menghukum anaknya derngan berterriak, menjerit, dan memukul akan menjadi model lepas kendali ketika menghadapi situasi yang menekan bagi anal-anaknya.
b.      Hukuman bisa menanamkan rasa takut, kemarahan dan penghindaran.
c.       Hukuman memberi onformasi pada anak tentang apa yang tidak boleh dilakukan bukan apa yang harus dilakukan.
d.      Hukuman bisa bersifat menyiksa. Walaupun sebenernya orangtua tidak bermaksud demikian.
      Mengingat efek yang ditimbulkan dari pemberian hukuman, kebanyak psikolog anak merekomendasian agar orang tua menghindari terutama hukuman fisik, dan apabila apabila anak melakukan kesalahan lebih baik mengajak anaknya berpikir logis, yaitu menjelaskan akibattindakan anak khususnya terhadap orang lain.
      Hukuman seringkali mengakibatkan seseorang menjadi merasa down dan “buruk”. Ada tiga efek negatif hukuman yang dapat muncul yag disebut dengan three R’s of Punishment, yaitu prilaku:
a.       Rebellion
b.      Revenge
c.       Retreat.

C.    Perkembangan Moral pada Masa Anak-anak Akhir
·         Anak berbuat baik bukan untuk mendapat kepuasan fisik, tetapi untuk mendapatkan kepuasan psikolog yang diperoleh melalui persetujuan sosial.
·         Karena lingkungan lebih luas, kaidah moral sebagian besar ditentukan olah norma-norma yang terdapat dalam kelompoknya.
·         Usia sekitar  10-12 tahun sudah mengenal konsep moralitas seperti kejujuran, keadilan, dan kehormatan.
·         Oerbuatan baik-buruk dilihat dari apa motif melakukan hal tersebut.

1.      Disiplin Pada Masa Anak-anak akhir.
Disiplin dapat dilakukan dengan beberapa cara (Papalia dkk, 2008), antara lain:
a.       Penarikan kasih sayang.
Adalah bentuk disiplin dimana orang tua menahan pemberian atensi atau kasih sayang terhadap anak.
b.      Penegakan kekuasaan.
Adalah teknik disiplin dimana orang tua mencoba untuk mengambil alih kontrol dari si anak atau mengambil alih sumber daya yang dimiliki anak.
c.       Induksi
Yaitu teknik disiplin dimana orangtua menggunakan penalaran dan penjelasan tentang konsekuensi perilaku anak terhadap oranglain.
Walaupun ada berbagai hasil penelitian, namun model ketiga yaitu induksi, lebih berhubungan secara positif dengan perkembangan moral dari pada penarikan kasih sayang dan penegakan kekuasaan. Induksi lebih berhasil pada anak usia sekolah dasar dibandingkan pada anak prasekolah, dan lebih berhasil pada anak dengan status sosial ekonomi menengah daripada yang rendah.

1)      Discipline style
Gaya disiplin mempunyai pengaruh besar bpada keterampilan sosial anak. Hart dkk (1992) mengemukakan ada tiga gaya disiplin, yaitu:
-          Permissive discipline style. Gaya disiplin ini ditandai dengan kecenderungan orangtua untuk memenuhi keinginan anak dan tidak memberi batasan yang tegas.
-          Power assertive discipline style. Ditandai dengan pemberian perintah tanpa tujuan dan penjelasan atau dengan menggunakan taktik mengancam atau hukuman fisik untuk mengontrol prilaku anak.
-          Inductive discipline style. Ditandai dengan pemberian alasan, penjelasan sebab-akibat, penjelasan tentang konsekuensinya, negoisasi dan umpan balik.

2)      Jenis-jenis hukuman
       Anak-anak yang tidak disiplin, biasanya mendapat hukuman. Ada bermacam-macam hukuman yang masing-masing mempunyai efek yang berbeda. Menurut Wilson (1999), jenis-jenis hukuman meliputi:
-          Physical punishment. Hasi;-hasil riset secara konsisten menunjuka bahwa hukuman fisik bersifat negatif seperti munculnya rasa marah, dendam dan rendah diri serta malu.
-          Spoken punishment. Berefek pada self-esteem yang rendah.
-          Witholding rewards. Melarang anak melakukan aktivitas yang menyenangkan karena prilaku buruknya dan reward diberikan bila berprilaku positiv.
-          Penalties.anak harus memberikan sesuatu yang berefek tidak menyenangkan karena prilaku salahnya.

3)      Kaitan Perkembangan Moral dengan Pengasuhan orangtua
       Hasil penelitian Einsberg dan Valiate 2002. Menunjukan bahwa anak yang memiliki perkembangan moral yang baik adalah anak yang orang tuanya memiliki kecenderyang orang tuanya memiliki kecenderungan:
-          Hangat dan mendukung , kettimbang menghukum.
-          Menggunakan disiplin model induktif
-          Memberi kesempatan untuk anak untuk mempelajari dan memahami perasaan oranglain.
-          Melibatkan anak dalam pengambilan keputusan keluarga dan dalam proses pemikiran mengenai keputusan moral.
-          Menjadi model penalaran dan prilaku moral, menyediakan kesempatan bagi anak untuk melakukan hal tersebut.
-          Menyediakan informasi mengenai prilaku apa yang dharapkan dan mengapa.
-          Membangun moralitas internal dan bukan eksternal.




4)      Pendidikan Moral anak
       Orangtua berperan penting dalam perkembanganan moral anak. Namun sayangnya kebanyakan orangtua tidak mempraktekan pola asuh dan pendidikan tepat untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Seringkali orang tua menginginkan anaknya mempunyai prilaku yang baik, tetapi tidak mengajarkan atau melatihnya padahal perilaku yang baik tidak dapat terbentuk dengan sendirinya tetapi harus dibentuk. Hal ini disebabkan karena faktor kepribadian, pengalaman attachment, kekurangan informasi, cultural expectation, atau problem kesehatan mental.
Selain dilakukan oleh orangtua  secara langsung pada anak, pendidikan moral dapat dilakukan dengan beberapa cara antaralain:
-          Kurikulum tersembunyi disekolah. Kurikulum ini berupa atmosfer moral yang diciptakan oleh sekolah dan kelas, orientasi moral dari para guru dan staff administrasi sekolah, serta memasukan dalam materi teks pelajaran.
-          Pembelajaran pelayanan. Merupakan bentuk pendidikan yang mengangkat tanggungjawab sosial dan pelayanan terhadap komunitas.
-          Pendidikan karakter. Yaitu mengajarkan anak untuk “melek moral” dengan memahami nilai-nilai karakter positif yang hrus dimiliki untuk mencegah mereka melakukan prilaku immoral.

5)      Karakter yang harus dikembangkan.
       Menurut Indonesia Heritage (Megawangi, 2003), ada sembilan faktor yang penting dimiliki oleh setiap individu, yaitu:
-          Cinta kepada Allah SWT dan semesta beserta isinya.
-          Tanggungjawab, disiplin, mandiri.
-          Jujur
-          Hormat dan santun.
-          Kasih sayang, peduli dan kerjasama
-          Percayadiri, kreatif, dan pantang menyerah
-          Keadilan dan kepemimpinan
-          Baik dan rendah hati.
-          Toleransi, cinta damai dan persatuuan.
Selanjutnya Megawangi (2003) menambahkan dalam proses pembentukan karakter ada tiga hal yang berlangsung secara terintegrasi. Pertama , mengerti baik dan buruk , mengerti tindakan apa yang harus diambil dan mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik.
Kedua, mempunyai kecintaan terhadap kebajikan dan membenci perbuatan buruk. Kecintaan ini merupakan obor atau semangat untuk berbuat kebajikan. Ketiga, mampu melakukan kebajikan, dan terbiasa melakukannya. Pada tahap ini, kebajikan sudah diwujudkan dalam bentuk perilaku dan sudah menjadi tindakan yang bisa dilakukan.

D.    Issu mengenai Seks Bebas dan Solusiya
Di negara kita saat ini, banyak sekali terjadi penyimpangan moral dan hal itu dilakukan oleh masyarakat kita dari berbagai kalangan dan usia. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena hal tersebut akan membawa dampak negatif pada keadaan negara kita. Ada banyak contoh yang perlu anda ketahui yang termasuk dalam kategori penyimpangan moral. Informasi tersebut diharapkan membuat anda paham tentang penyimpangan itu sehingga mampu menemukan solusi yang tepat bagi permasalahan tersebut.
“Penyimpangan moral tersebut bisa diakibatkan oleh budaya barat yang tidak disaring dengan baik sehingga semuanya diserap oleh generasi muda kita. Dalam masa pubertas, keinginan mereka untuk mencoba sangat besar dan sering mereka tidak memikirkan resiko dari perbuatannya tersebut.”
Contoh penyimpangan moral dikalangan remaja adalah perilaku seks bebas, pemakaian narkoba, budaya hedonisme dan juga gaya berpakaian yang tidak sepantasnya. Jika hal ini dibiarkan maka generasi muda kita akan hancur dan bangsa ini akan jauh dari kemajuan dan kemakmuran. Selain itu, hal tersebut akan membawa pengaruh yang buruk pada system sosial negara kita. Penyimpangan tersebut sudah terjadi sejak lama dan banyak orang yang menutup mata dan telinga dari kondisi ini.
Penyimpangan moral tersebut bisa diakibatkan oleh budaya barat yang tidak disaring dengan baik sehingga semuanya diserap oleh generasi muda kita. Dalam masa pubertas, keinginan mereka untuk mencoba sangat besar dan sering mereka tidak memikirkan resiko dari perbuatannya tersebut. Selain budaya barat, kondisi keluarga juga menjadi penyebab dari penyimpangan moral pada kalangan remaja. Mungkin orang tua lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah untuk bekerja sehingga para remaja tersebut kurang kasih sayang, pengawasan dan perhatian. Selain itu, mereka juga butuh pengertian dan dukungan dari keluarga yang harusnya mereka dapatkan sebagai seorang anak. Jika hal ini dibiarkan, penyimpangan tersebut akan semakin parah.
Untuk mengatasi penyimpangan moral pada remaja, peran orang tua sangat penting. Dengan orang tua yang selalu mendampingi, mereka akan yakin bahwa mereka tidak sendiri sehingga apapun kondisinya para remaja tersebut akan berani terbuka pada orang tua. Selain itu, bimbinglah mereka dan arahkan mereka dengan baik. Sebagai contoh, anda bisa mendorong para remaja untuk menyalurkan bakat dan hobi dengan cara yang benar seperti les musik, olahraga dll.
 
  
Daftar pustaka
Agustin, Nurihsan. (2011). DINAMIKA PERKEMBANGAN ANAK DAN REMAJA (Tinjauan Psikologis, Pendidikan, dan bimbingannya). Bandung. PT Reflika Aditama.
Soetjiningsih. (2012). PERKEMBANGAN ANAK (Sejak Pembuahan Sampai dengan Kanak-kanak Akhir). Jakarta. PRENADA MEDIA GROUP.
http://www.siputro.com/2011/06/penyimpangan-moral-pada-remaja-dan-penanggulangannya/